Pengembangan Benih Petani Rembang

SERIKATPETANIREMBANG.COM - Dalam beberapa tahun ini Petani Rembang giat dalam mengembangkan beberapa benih. Seperti kacang panjang, pare, cabai, semangka dan masih banyak lagi. Salah satu Petani dari Desa Sidorejo Pamotan bernama Sueb yang sekaligus Kades mengaku terbantu dalam perolehan hasil budidaya yang ditekuni.
Dalam kurun waktu 4 bulan, hasil sudah dapat dirasakan. Tuturnya, dari benih kacang 3kg, mendapat panenan sebesar 650kg. Dalam 1 kg biji kacang kering dibeli perusahaan sebesar Rp. 35.000,-. Kalau dikalikan dengan perolehan hasil benih, nominal rupiah sebesar 22.750.000,- kotor. Karena belum dikurangi dengan biaya produksi pra hingga pasca panen.
Dari perolehan hasil budidaya serta kepastian harga, budidaya ini patut dikembangkan dan digemborkan, apalagi di tahun 2019 terjadi kontrak baru dengan harga Rp 45.000. Karena budidaya ini dipandang mampu menambah tingkat kesejahteraan Petani di Rembang.  Begitu tuturnya dengan lantang. 


Admin SPI Rembang


Kontak selanjutnya:

Mahmudi - SPI Rembang - +62 821 3822 1920

Sueb - Petani Sidorejo - +62 812 2809 9878

Share:

Pertama di Rembang; Tanam Melon Dalam Green House Sistem Fertigasi

SERIKATPETANIREMBANG.COM - Melon Queen dan Golden akan menjadi pilihan pertama dalam ujicoba pemanfaatan dan penggunaan greenhouse dengan sistem fertigasi. Kami pilih jenis melon tersebut, karena sudah ada kepastian pasarnya, ungkap Muarif.

Arif dan beberapa kawan SPI Rembang, berusaha berbuat kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan Sumber Daya yang ada. 
Luasan lahan Kabupaten Rembang mayoritas berupa tanah tegalan dan sawah tadah hujan, ditambah pula minimnya sumber mata air sehingga sistem pengairan lahan belum bisa optimal. Selain sumur bor, infrastruktur  pertanian seperti bendungan yang belum memadai. Sistem Fertigasi ini, menjadi pilihan dalam pengembangan budidaya tanaman yang efisien. Berdasar itulah kami berusaha bersama dalam pengembangan greenhouse dengan sistem fertigasi.

Fertigasi merupakan sistem pengairan tanaman dan pemupukan yang diberikan secara bersamaan melalui irigasi tetes. Fertigasi berasal dari paduan kata "fertilisasi/fertilizer" (pemupukan) dan "irigasi/irigation" (pengairan). 
Dilihat dari segi efisiensi penggunaan air, nutrisi, tenaga kerja dan pemanfaatan lahan pekarangan yang tandus dan tidak subur teknik fertigasi dapat dijadikan solusi alternatif dalam budidaya tanaman dan menguntungkan. Akan tetapi, biaya awal dalam pembelian perlengkapan fertigasi terbilang mahal, sehingga hal ini menjadi kendala bagi Petani dalam menerapkan sistem irigasi. Namun sebagai Petani yang kreatif dan inovatif, hal tersebut bukan menjadi kendala yang berarti.

Dalam membuat greenhouse dengan sistem fertigasi ini, kami sudah mengeluarkan biaya lebih dari 25 juta dengan luasan lahan 250 m2, dengan populasi tanaman sebanyak 600. Hitungannya, bangunan ini akan mampu bertahan selama 4 tahun dan aman dari segala virus. Kami akan tetap optimis dalam ujicoba kali ini, dengan memilih dua jenis melon tersebut, karena sudah kontrak dengan pasar eksklusif.
Untuk sementara kami masih ujicoba, jadi kami belum bisa memberikan informasi secara detail budidaya dengan sistem ini, karena hal ini baru pertama kali. Kalau kami sudah melakukan praktik awal ini, pastinya segala informasi akan kami ceritakan ddan bagikan. Begitu papar Muarif.


Admin SPI Rembang

Kontak selanjutnya:

Mahmudi - Petani SPI- 0821 3822 1920

Muarif - Petani SPI- 0821 1038 8028

Share:

Fertigasi Solusi Alternatif Di Rembang

SERIKATPETANIREMBANG.COM - Fertigasi merupakan sistem pengairan tanaman dan pemupukan yang diberikan secara bersamaan melalui irigasi tetes. Fertigasi berasal dari paduan kata "fertilisasi/fertilizer" (pemupukan) dan "irigasi/irigation" (pengairan). 

Dilihat dari segi efisiensi penggunaan air, nutrisi, tenaga kerja dan pemanfaatan lahan pekarangan yang tandus dan tidak subur teknik fertigasi dapat dijadikan solusi alternatif dalam budidaya tanaman dan menguntungkan. Akan tetapi, biaya awal dalam pembelian perlengkapan fertigasi terbilang mahal, sehingga hal ini menjadi kendala bagi Petani dalam menerapkan sistem irigasi. Namun sebagai Petani yang kreatif dan inovatif, hal tersebut bukan menjadi kendala yang berarti.
Luasan lahan Kabupaten Rembang mayoritas adalah tanah tegalan dan sawah tadah hujan, serta masih terkendala dengan kurangnya sumber mata air sehingga sistem pengairan lahan belum bisa optimal. Selain sumur bor, infrastruktur  pertanian seperti bendungan yang belum memadai. Sistem Fertigasi ini, menjadi pilihan warga kecamatan Sulang dalam pengembangan budidaya tanaman yang efisien. 

Rencana pertengahan desember akan kami tanami melon queen dan golden dengan pihak yang sudah memiliki pasar. Sehingga modal segera kembali dan dapat lebihnya Mas, ungkap Arif dan Zainal yang merupakan anggota SPI Rembang.


Admin SPI Rembang

Share:

Temu Tani Presiden Joko Widodo di Lampung: Kesejahteraan Petani Meningkat, Harapan Kedaulatan Pangan Tercapai

 Ketua Umum SPI Henry Saragih membacakan pidatonya dalam Temu Tani bersama Presiden Joko WIdodo di Pringsewu, Lampung, siang ini (24/11/2018)

PRINGSEWU. 13.000-an massa petani Lampung mengapresiasi kinerja pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla dalam bidang pertanian. Hal ini disampaikan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih saat menerima kunjungan Presiden Joko Widodo di Dusun Sidorejo, Desa Pujodadi, Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Pringsewu, Lampung, siang ini (24/11).
Henry menyampaikan, salah satu indikator keberhasilan di atas bisa dilihat dari nilai Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional Oktober 2018 yang sebesar 103,02 persen.
“Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS), dibandingkan Oktober 2017, rata-rata harga pada Oktober 2018 di tingkat petani untuk kualitas GKP dan gabah kualitas rendah mengalami kenaikan masing-masing 3,05 persen dan 7,41 persen. Demikian juga di tingkat penggilingan, rata-rata harga pada Oktober 2018 untuk kualitas GKP dan gabah kualitas rendah juga mengalami kenaikan masing-masing 3,13 persen dan 7,03 persen,” paparnya.
Henry mengemukakan, meski terjadi penurunan NTP untuk tanaman perkebunan karet dan sawit, namun untuk tanaman perkebunan kopi yang mayoritas diusahakan oleh rakyat masih termasuk tinggi.
“Karena itu kehidupan petani di Lampung kesejahteraannya bisa dikatakan lebih baik karena tanaman kopi merupakan tanaman perkebunan yang masih mendominasi di daerah ini,” lanjutnya.
Henry melanjutkan, petani Indonesia adalah petani yang produktifitasnya termasuk tinggi di kawasan Asia ini. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh petani Indonesia dengan berbagai upaya yang menghasilkan beragam penemuan, menggambarkan kuatnya dan beragamnya kebudayaan kita.
“Di rumah-rumah petani di sekitar acara ini berlangsung para petani menyimpan gabahnya, ada yang berkelompok secara bergotong royong. Kalau akhir-akhir ini ada pandangan, kalau petani panen, petani langsung menjual semua gabahnya itu tak benar. Di kampung ini hampir semua rumah petani masih tersedia cadangan gabah hingga musim panen berikutnya,” ungkapnya.
Didukung Pemerintah
Henry menjelaskan, petani Indonesia juga berhasil menemukan berbagai inovasi yang mampu mengurangi ketergantungan pemakaian pupuk, racun, dan benih kimia. Serikat petani dan kelompok-kelompok petani telah mulai mengembangkan pertanian ekologis, organik, pertanian yang berkelanjutan, pertanian yang menjaga alam, pertanian yang mendinginkan bumi, untuk keselamatan alam dan kesejahteraan petani.
“Sebagai contoh pada tanggal 8 Juli 2018, bertepatan hari ulang tahun Serikat Petani Indonesia ke 20, kami telah meluncurkan benih unggul SPI-20 hasil tangkaran saudara Kusnan-petani dari Kediri, dan sudah diuji coba dengan hasil panen bisa mencapai 8 ton dengan perlakuan organik,” jelasnya
Panen perdana benih padi SPI-20
“Juga di lampung ini sebelumnya, beberapa tahun lalu sudah ada petani yang meluncurkan benih yang dinamakan MSP, dan telah ditanam diberbagai wilayah di Indonesia,” sambungnya.
Henry menerangkan, dukungan pemerintah Jokowi bukan hanya di level desa hingga nasional, bahkan juga di level internasional. SPI menghargai upaya pemerintah Indonesia yang terus mendukung inisiatif Deklarasi PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) tentang Hak Asasi Petani dan Masyarakat yang Bekerja di Pedesaan. Pemerintah Indonesia menjadi co-sponsor resolusi Dewan HAM PBB yang mengesahkan Deklarasi.“Ini menunjukkan pemerintah Indonesia berkomitmen besar melindungi hak asasi petani, dan di zaman pemerintahan Pak Jokowilah deklarasi ini terwujud menjadi deklarasi internasional pada 19 November 2018 yang lalu,” tambahnya.
Henry menambahkan, SPI optimis kesejahteraan petani dan kedaulatan pangan akan semakin meningkat sejalan dengan program reforma agraria yang secara konsisten dijalankannya redistribusi tanah melalui program Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA) dan Perhutanan Sosial (PS).
“Melalui program ini petani-petani yang tidak atau kekurangan tanah bisa mempunyai kesempatan untuk menguasai, memiliki tanah. Semoga pemerintahan ini terus bekerja keras untuk kemajuan petani dan rakyat Indonesia,” tutupnya.
Kontak selanjutnya:
Henry Saragih – Ketua Umum SPI – 0811 655 668
Share:

Komite Ketiga Majelis Umum PBB Setujui Deklarasi Hak Asasi Petani Dan Masyarakat Yang Bekerja Di Pedesaan

SERIKATPETANIREMBANG.COM - NEW YORK. Komite Ketiga Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – bagian dari enam Majelis Umum PBB, khusus mengurus bidang sosial, hak asasi manusia, budaya – menyetujui resolusi tentang Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani dan Masyarakat yang Bekerja di Pedesaan (selanjutnya disingkat menjadi Deklarasi HAP PBB) dalam sidang umum PBB di New York, Amerika Serikat, Senin (19/11/2018) waktu setempat.
Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) menyampaikan, pengesahan Deklarasi HAP PBB ini adalah kemenangan bagi kaum tani kecil sedunia. Ia menjelaskan, deklarasi ini adalah deklarasi yang inisiatifnya asli berasal dari kampung-kampung pelosok di Indonesia.
“Konferensi nasional hak asasi petani tahun 2001 di Cibubur yang SPI selenggarakan bersama ormas dan lembaga lainnya. Ini adalah salah satu momen awal lahirnya deklarasi ini yang selanjutnya SPI bawa bersama La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) ke tingkat internasional,” jelasnya.
“Dengan Deklarasi HAP PBB ini, hak-hak kita sudah diakui oleh mekanisme HAM internasional PBB secara resmi, mulai dari hak atas kehidupan yang layak, hak atas tanah, hak atas benih, hak atas keanekaragaman hayati dan prinsip nondiskriminasi terutama untuk petani perempuan dan perempuan pedesaan,” lanjutnya.Henry menambahkan, Deklarasi HAP PBB ini nantinya bisa dipakai untuk perjuangan mempertahankan lahan oleh petani di Indonesia.
“Negara-negara, terutama Indonesia, bisa menggunakannya sebagai standar HAM yang penting di tingkat nasional. Juga bisa memperkuat banyak undang-undang lain yang mendukung hak asasi petani,” ujar dia.
Zainal Arifin Fuad, Ketua Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat (DPP) SPI yang turut hadir dalam Sidang Umum PBB di New York melanjutkan, persetujuan Komite Ketiga Majelis Umum PBB terhadap Deklarasi HAP PBB ditandai dengan beberapa perdebatan, dengan delegasi AS “benar-benar” menolak teks dalam deklarasi tersebut. Mereka memiliki keprihatinan yang sudah lama tentang Deklarasi PBB yang berusaha memperluas hak-hak yang ada, mengasingkan hak asasi petani di atas kelompok lain, dan juga pada hak kolektif yang diatur dalam isinya.
“Dalam voting yang dilakukan hari Senin 19 November 2018 pukul 15.00 waktu New York, dari total 174 negara, ada 117 negara yang setuju, 50 abstain, dan 7 negara yang menolak yakni Australia, Hungaria, Israel, Selandia Baru, Swedia, Inggris Raya, dan tentu saja Amerika Serikat,” ungkap Zainal yang juga anggota Komite Koordinator Internasional La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional).“Penolakan dan abstain dikarenakan di antaranya ketidaksetujuan mengenai kedaulatan pangan, hak atas tanah, benih, keanekaragaman hayati, hak kolektif dan juga keberpihakan terhadap industrialisasi pertanian dan juga pertanian kimia,” lanjutnya.Zainal menambahkan, SPI menghargai upaya pemerintah Indonesia yang terus mendukung inisiatif Deklarasi HAP ini baik di nasional maupun di PBB. Seperti yang kita tahu, Indonesia juga menjadi co-sponsor resolusi Dewan HAM PBB yang mengesahkan Deklarasi HAP.
“Ini menunjukkan pemerintah Indonesia berkomitmen besar melindungi hak asasi petani,” tambahnya.
“Proses selanjutnya adalah Deklarasi HAP PBB akan diajukan ke hadapan Majelis Umum PBB pada Desember 2018, untuk diadopsi sepenuhnya,” tutupnya.
Kontak Selanjutnya:
Henry Saragih – 0811 655 668 – Ketua Umum SPI
Zainal Arifin Fuad – 0812 8932 1398 – Ketua Departemen Luar Negeri SPI
Mahmudi – 0821 3822 1920 – SPI Rembang
Share:

PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA [ P G P R ]

SERIKATPETANIREMBANG.COM - Meskipun unsur hara (bahan makanan) di dalam tanah itu ada, akan tetapi belum tentu tersedia atau diserap oleh tanaman. Unsur hara diikat oleh partikel lempung dalam bentuk ion. Sedangkan tanaman menyerap unsur hara tersebut dengan cara absorbsi dan pertukaran kation, di mana akar tanaman mengeluarkan ion hidrogen [ H+]  untuk ditukar dengan unsur lain.

Unsur hara dalam tanah menjadi tidak tersedia karena alasan:
1. Fiksasiunsur hara tidak bisa diserap karena di ikat kuat oleh partikel tanah atau dikuasai serta didominasi oleh unsur tertentu.
2. Keasaman: tanah banyak mengandung ion hidrogen dan diikat oleh partikel lempung.
Kedua permasalahan ini hendaknya dapat dikurangi, agar unsur hara dalam tanah menjadi tersedia dan dapat diserap oleh tanaman. Upaya yang perlu dilakukan adalah penambahan bahan organik, menambah jumlah mikroba, dan melarutkan sisa-sisa bahan kimia yang ada di dalam tanah.

Plant Growth Promoting Rhizobacteriabisa menjadi solusi mengatasi permasalahan tersebut. Sebab, PGPR merupakan  campuran bahan/ramuan yang mengandung bacteri Psedomonas sp dan Bacillus untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan mengendalikan penyakit patogen tular tanah yang menyerang akar tanaman. Misal antraknosa pada cabai.

Ramauan bakteri dapat meningkatkan kekebalan tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik. Dengan mengadopsi teknologi biological complek, PGPR berperan dalam proses bioremediasi, yakni merobak senyawa-senyawa kimia pestisida, herbisida  menjadi tidak berbahaya lagi bagi lingkungan. PGPR sebagai penambat nitrogen yang berlimpah di udara sehingga bisa dimanfaatkan oleh tanaman, dan mampu melarutkan sisa-sisa bahan kimia yang terdapat dalam tanah sehingga  tanah akan gembur lagi. Sebab partikel-partikel lain yang mengikat kuat dapat dipecahkan /diurai, sekaligus sebagai hormon pemacu pertumbuhan tanaman, sehingga dosis pupuk kimia bisa ditekan sampai 50%.

Fungsi dari PGPR adalah sebagai;
  1. Penambat nitrogen
  2. Pelarut pospat
  3. Penekan perkembangan patogen tular tanah
  4. Mempercepat pertumbuhan akar tanaman, dan
  5. Dekomposer pembuatan pupuk organik
Cara pembuatan  PGPR;
Bahan:
1. Bekatul/dedak     1 kg
2. Terasi                  5 biji
3. Micin                  1 sachet
4. Air  bersih          10 liter
5. Gula pasir          0,5 kg.

Biang PGPR
Biang PGPR dari akar bambu, atau akar rumput gajah satu genggam yang masih segar, dicuci  selanjutnya di rendam air matang  1 liter  selama tiga hari.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Pertama rebus air 10 liter sanpai mendidih, selanjutnya masukan bekatul sambil di aduk, terasi yang sudah dihaluskan, gula pasir, micin di masukan dan di aduk agar larut selama 25 menit dan angkat lalu dinginkan hingga semalam.

Keesokan harinya rebusan bekatul tersebut di saring/di peras, ambil airnya masukan ke dalam jirigen.
Biang PGPR dari akar bambu disaring, ambil airnya lalu campurkan ke dalam jirigen kemudian di fermentasi selama 15 hari. Setelah tiga hari akan keluar gelembung-gelembung udara dalan jirigen yang menandakan proses pembiakan PGPR sudah jadi. Selanjutnya setiap pagi tutup jirigen dibuka selama 5 menit sambil di gojlog  agar melarut lalu jirigen tutup kembali. Lakukan hal tersebut  sampai hari ke 15, dan PGPR sudah siap digunakan.

Mengapa memakai akar bambu ?
Akar bambu digunakan sebagai biang  PGPR sebab pohon bambu mampu hidup disegala cuaca, dan setiap tanah yang berada di bawah pohon bambu mayoritas mempunyai tekstur yang gembur dan remah. Hal tersebut disebabkan adanya bakteri yang mampu membuat kondisi lingkungan sesuai dengan ekologinya.

Cara penggunaan :
1. Untuk perendaman benih setiap 5cc dicampur dengan air 1 liter direndam selama 15 menit.
2. Untuk aplikasi tanah setiap 100cc ditambah dengan air 14 liter disemprotkan 3 hari sebelum tanam pindah.
3. Untuk tanaman  padi, palawija, hortikultura setiap 100cc ditambah air 14 liter disemprotkan.
4. Untuk pembuatan kompos setiap ton bahan membutuhkan 2 liter PGPR.

Aplikasi sebaiknya pada pagi/sore hari agar bakteri tidak mati terkena sinar ultraviolet  matahari.

SELAMAT MENCOBA ....................

Sehingga menjadi petani MANDIRI

Penulis: SUTRIYONO
Penyunting: Admin SPI Rembang


Kontak selanjutnya:
Sutriyono - Penyuluh Swadaya - +62813 8081 0713 
Mahmudi - SPI Rembang - +62821 3822 1920

Group WA "Rembug Petani Rembang"
Share:

Teknik Sederhana Bibitkan Pisang Ulin

SERIKATPETANIREMBANG.COM - Salah satu cara memperbanyak tanaman pisang di kebun dengan sederhana adalah memanfaatkan tunas atau bonggol pisang dari tanaman yang buahnya baru dipetik. Cara ini mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan Petani, karena sudah sering dilakukan. Namun hal ini sangat penting bagi kita yang baru belajar dalam bidang pertanian.
Adapun tahapannya, adalah:
1) ambil bonggol pisang dari tanaman yang sudah dipetik
2) belah bonggol sesuai yang dikehendaki
3) masukkan belahan bonggol ke tanah yang digali
4) galian jangan dalam, terpenting bisa menutupi bonggol dengan rata tanah

Usahakan jaga kelembapan tanah. Belahan bonggol pisang hingga muncul tanaman sampai berbuah memerlukan waktu 7 bulan. Begitu cara Kaji Jaya bersama kawan Petani Rembang dalam melakukan pembibitan pisang ulin.

Selamat mencoba dan berkreasi.

Admin SPI Rembang

Kontak selanjutnya:
Mahmudi - SPI Rembang - +62 821 3822 1920

HM Dhori - Putra Kaji Jaya - +62 823 2469 2786
Share:

BINNUR PEDULI PETANI

SERIKATPETANIREMBANG.COM - Binnur merupakan lembaga pendidikan agama yang senantiasa mengabdikan diri kepada negeri, mewujudkan regenerasi yang agamis dan nasionalis berdaya juang tinggi dengan mengedepankan rasionalitas dalam berfikir. Binnur diambil dari nama Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin (Ponpes Putra) dan Nural Firdaus (Ponpes Putri). Dari segi bahasa, Binnur juga mempunyai arti cahaya.

Selain Pondok Pesantren yang menjadi cikal bakal yayasan Binnur. Di tahun 2009 juga dikembangkan sekolah Madrasah Aliyah yang dikenal MAs BINNUR dengan Kepala Sekolah Abdul Azhim, S.IP. Sekolah ini tanpa pungutan biaya sepeserpun hingga lulus. Bahkan siswa tidak diwajibkan memakai seragam.
Binnur sering kali mengadakan kegiatan-kegiatan menarik seperti bedah buku, bakti sosial, pengembangan ketrampilan, pertanian dan lain lain. Salah satu acara yang berlangsung kemarin adalah seminar umum  dengan tema Peran Otoritas Jasa Keuangan Dalam Memperkuat Ekonomi Kerakyatan.

Nara sumber yang hadir dalam acara tersebut adalah, (1) Nur Satyo Kurniawan dari OJK, (2) Polly Morpha B P dari BRI, (3) Rahmad Winardiyanto dari Bank Mandiri, (4) Edi Pramono dari Garuda Foods. Peserta dihadiri oleh siswa-siswi MAs Binnur Sulang, Petani, Peternak di kabupaten Rembang dan sekitar.

Sambutan di awali oleh Pengurus sekaligus Kepala Sekolah MAs Binnur Abdul Azhim, yang menganggap betapa pentingnya lembaga keuangan dalam support kegiatan usaha rakyat. Khususnya Petani, Peternak dan Siswa yang nanti ketika lulus mayoritas berwirausaha. Pada zaman dahulu, modal usaha bisa meminjam dari orang tua atau saudara. Tetapi untuk perkembangan saat ini, mau pinjam saudara sendiri pun sangat susah. Makanya Perbankan dianggap penting dalam menopong gerakan ekonomi rakyat.
Selanjutnya Pemateri Nur Satyo Kurniawan mengungkapkan bahwa, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan. OJK dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. OJK didirikan untuk menggantikan peran Bapepam-LK dalam pengaturan dan pengawasan pasar modal dan lembaga keuangan, serta menggantikan peran Bank Indonesia dalam pengaturan dan pengawasan bank, serta untuk melindungi konsumen industri jasa keuangan. 



Kontak selanjutnya :

Abdul Azhim - Yayasan Binnur - +62 852 2519 6400
Nur Rochim - MAs Binnur - +62 852 9332 1233

Share:

Benih SPI20; Panen 75 Hari


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Benih SPI20 merupakan benih padi hasil persilangan antara padi lokal Tuban dengan padi IR64. Benih ini disilangkan dan dikembangkan oleh Kusnan yang juga termasuk anggota SPI Tuban. Benih ini dinamakan benih padi SPI20, perpaduan antara nama organisasi SPI (Serikat Petani Indonesia) dan "20" merupakan usia dari SPI yang pada tahun 2018 ini menginjak usia ke 20 tepatnya 8 Juli kemarin.

Papar Kusnan, benih ini mampu menghasilkan rata-rata 6 ton/Ha dengan potensi bisa 9 ton/Ha. Jumlah anakan mampu mencapai 30-50 dengan bulir sekitar 185-250 malai.

Dalam luasan 1 Ha area sawah dibutuhkan benih SPI20 sekitar 25-30kg dengan pola tanam jajar legowo 4:1. Benih ini ada karena kepedulian SPI terhadap Petani agar berdaulat tanpa bergantung pada benih-benih GMO (Genetically modified organism).

Admin SPI Rembang

Kontak selanjutnya :

Kusnan - SPI Tuban - +62 852 3299 5307

Mahmudi - SPI Rembang - +62 821 3822 1920
Share:

SPI Apresiasi Koreksi Data Produksi Beras Oleh Pemerintah

Henry Saragih Ketua Umum SPI
SERIKATPETANIREMBANG.COM - JAKARTA. Serikat Petani Indonesia (SPI) mengapresiasi langkah pemerintah untuk mengkoreksi data produksi beras termasuk data lahan baku sawah, luas panen, dan produksi beras, dengan menggunakan metode baru. Berdasarkan koreksi ini terdapat data baru yakni luas baku sawah yang berkurang dari 7,75 juta hektar tahun 2013 menjadi 7,1 juta hektar tahun 2018. Sementara potensi luas panen tahun 2018 mencapai 10,9 juta hektar dan produksi 56,54 juta ton gabah kering giling atau setara 32,42 juta ton beras.
Ketua Umum SPI Henry Saragih menyampaikan, data dari metode pengumpulan data yang baru ini mesti disyukuri, yang tentunya tidak lagi menimbulkan pro kontra dan polemik terkait data produksi padi dan beras.
“Semoga data ini lebih valid. Data adalah pangkal semua kebijakan di belahan negara manapun, tak terkecuali di Indonesia. Jika data yang jadi dasar membuat kebijakan tidak valid alias salah, kebijakan yang dibuat berpotensi besar untuk salah,” papar Henry di Jakarta pagi ini (23/10).
“Jika kebijakan itu menyangkut hajat hidup orang banyak — seperti impor beras — kebijakan itu potensial untuk menyengsarakan banyak orang. Karenanya, data yang baru ini mesti jadi momentum baru untuk membuat kebijakan yg lebih baik dan menyejahterakan rakyat, termasuk petani,” lanjutnya.
Henry mengapresiasi langkah pemerintah karena ini adalah koreksi atas kesalahan sudah berlangsung selama puluhan tahun, setidaknya sejak 1999.
“Ini adalah pekerjaan yang luar biasa dari pemerintahan sekarang,” tuturnya.
Henry menambahkan, setelah koreksi data produksi beras ini, masih banyak pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan pemerintah, itu pasti. Data baru tentu saja membawa berbagai konsekuensi, koreksi dan penyesuaian-penyesuaian, itu juga pasti dan memang harus dilakukan; termasuk soal penganggaran, dan sebagainya.
“Kita optimis dengan data baru ini kedaulatan pangan akan tercapai, karena luasan lahan pertanian pangan akan bertambah dengan redistribusi tanah melalui reforma agraria dan perhutanan sosial. Tanah yang jutaan hektar yang diredistribusi ke petani tersebut akan menjadi lahan memproduksi pangan dengan model agroekologi,” tutupnya.
Kontak Selanjutnya:
Henry Saragih – Ketua Umum SPI – 0811 655 668
http://www.spi.or.id/spi-apresiasi-koreksi-data-produksi-beras-oleh-pemerintah/
Share:

Dadapan Sentra Kerajinan Bambu Rembang

 Warsilah sedang merangkai pinggiran Tamber

SERIKATPETANIREMBANG.COM - Dadapan merupakan desa di kecamatan Sedan, kabupaten Rembang yang menjadi sentra kerajinan bambu dan lidi. Desa dadapan terdiri dari lima buah dukuhan besar yaitu Dadapan (sebagai pusat pemerintahannya / kerajan), Macan Ireng, Siwalan Sukun, Ngemplak dan Sanggrahan. Desa ini terletak di kaki Gunung Argopuro dan merupakan salah satu perlintasan dalam pendakian. Mayoritas mata pencaharian masyarakat Dadapan adalah sebagai Petani dengan pekerjaan sampingannya sebagai pembuatan kerajinan dari bambu atau preng.

Bermacam khas kerajian bambu yang dapat dihasilkan dari desa ini. Di antaranya adalah tamber, tampah, ikrak, caping, kalo, wakul, kukusan, dunak, rinjing dan lain-lain. 
Kades Dadapan (Zubeir) bersama Warsilah

Salah satu dari sekian banyak Pengrajin yang ada di Dukuh Siwalan Sukun desa Dadapan yaitu Warsilah. Dalam satu hari Warsilah sendiri mengaku dapat menghasilkan minimal sepuluh tamber. Tamber merupakan wadah bulat besar yang biasa digunakan untuk menjemur ikan, sisa nasi serta bisa dimanfaatkan dalam berbagai acara seperti kirab budaya, pernikahan, dan hajatan besar lainnya.

Bahan bambu dalam pembuatan Tamber terdiri dari bambu/preng apus dan preng ori. Masing-masing preng mempunyai mafaat tersendiri. Preng ori dimanfaatkan untuk pinggiran yang melingkar besar sebagai patek atau penguat tamber, sedangkan preng apus difungsikan untuk anyaman bagian tengah sebagai landasan. 

Dalam pembuatan kerajinan bambu ini, Warsilah mendapat ilmu secara turun temurun dari orang tuanya dan mengaku tanpa menemui kendala dalam proses pembuatan. Hasil dari kerajinannya sudah ada Pembeli atau Bakul yang mengambil tiap minggu sekali. Sehingga mayoritas Pengrajin bambu di Siwalan Sukun (SS) merasa terbantu karena tidak perlu turun gunung. 

Bambu sebagai bahan utama kerajinan saat ini jumlahnya sudah banyak berkurang, meskipun masih ada. Sehingga harapan Pengrajin agar Pemerintah Desa khususnya dan Pemerintah Daerah Rembang dapat melakukan penanam bambu kembali. Satu sisi bahan dasar kerajian  tetap terjaga dan tidak musnah, sisi lain untuk menjaga debit air dan menanggulani tanah longsor, karena kondisi geografis Siwalan sukun yang berbukit. Hal lain terkait pemasaran produk dan pelatihan peningkatan kwalitas serta inovasi produk juga penting. Ungkap Warsilah kepada Kades Zubeir.

Admin SPI Rembang

Kontak selanjutnya :

Zubeir - Kades Dadapan - +62 813 2615 9200
Mahmudi - SPI Rembang - +62 821 3822 1920
Share:

Mulyonoto Manfaatkan Pekarangan Rumah


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Pemuda tani asal Nglojo kecamatan Sarang ini merupakan anggota SPI (Serikat Petani Indonesia) cabang Rembang yang memanfaatkan lahan pekarangan rumah dengan mengembangkan dan membudidayakan terong panjang lokal yang benihnya didapat dari Kediri. Ketika konferensi internasional bertema Agricultural Biodiversity CSOs Regional Consultation on the Implementation of Peasant Rights yang sekaligus memperingati hari ulang tahun SPI ke-20.

Benih terong ini merupakan jenis terong panjang yang saya dapat dari kawan SPI Bogor. Kemudian sepulang dari Kediri, selang beberapa saat benih ini langsung saya aplikasikan dengan media tanah, kotoran sapi serta pasir di polybag dan pot samping rumah, ungkap Mulyonoto.

Awal tanam benih dengan cara sebar di bedengan tanah yang sudah disiapkan, selang sebulan ketika sudah mencapai empat daun, tanaman di pindah ke polybag. Mulai berbuah setelah mencapai usia tiga bulan, setelah genap usia empat bulan sudah siap petik.



Mulyonoto mengaku selama masa tanam terong ini, tanpa suatu apapun menggunakan pupuk kimia. Hanya mengandalkan media tanah, pasir dan kotoran sapi/blothong sapi yang sudah melalui proses fermentasi dengan perbandingan 1:1:1. Terdapat 130 tanaman yang siap dipetik ketika nanti usia genap 4 bulan, sekarang baru usia 3 bulan 15 hari. Inilah salah satu keunggulan benih lokal dengan kebal tumbuh tanpa terserang penyakit dan mudah perawatannya, meski panennya agak lama. Tapi dijamin lebih menyehatkan tanpa kontaminasi pupuk kimia.

Tambahnya, nanti hasil dari terong ini akan dipetik buah dan sebagian akan kita lestarikan benihnya di Rumah Benih SPI Rembang. Karena benih lokal yang kita punya mayoritas sudah hilang dan kalah dengan benih industri.



Admin SPI Rembang

Kontak selanjutnya :

Mulyonoto Ari   -   +62 822 4491 7863

Mahmudi           -   +62 821 3822 1920
Share:

Hari Pangan Sedunia 2018; Penghapusan Kelaparan Dunia Bukan Khayalan

SERIKATPETANIREMBANG.COM - JAKARTA. Pada peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang bertepatan tanggal 16 Oktober 2018, FAO (Organisasi Pertanian dan Pangan Internasional) mengusung tema “Our Actions Are Our Future, A #ZeroHunger World by 2030 is Possible”. Tema ini dipilih sebagai upaya penghapusan kelaparan yang menjadi ancaman serius bagi kehidupan umat manusia di dunia.
Menyikapi hal tersebut, Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), dalam siaran pers hari ini (16/10) menyambut baik upaya penghapusan kelaparan di dunia, sesuai dengan tema yang ditetapkan oleh FAO tersebut.
“Penghapusan kelaparan di dunia itu bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan, hal ini sejalan dengan kebijakan FAO, terutama setelah terjadinya krisis pangan global pada tahun 2008 lalu. FAO menekankan pentingnya peran sentral petani dalam pertanian global sebagai aktor utama penghapusan kelaparan,” ujarnya di Jakarta pagi ini (16/10).
Henry memaparkan, petani menjadi aktor utama dalam menerapkan pertanian agroekologi, yakni sebagai suatu sistem pertanian yang menyeluruh dan mempertimbangkan aspek lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat pertanian. Sistem pertanian ini tidak menggunakan benih produksi perusahaan, pupuk dan obat-obatan kimia, tetapi menggunakan benih petani, pupuk dan obat-obatan alami yang ada disekitar tanah pertanian petani. Model pertanian ini juga menjadi solusi bagi ancaman perubahan iklim.
“Sebaliknya apabila FAO tidak bisa menghempang derasnya laju liberalisasi, privatisasi dan deregulasi yang didorong IMF – Bank Dunia atau aktor-aktor ekonomi internasional lainnya maka penghapusan kelaparan tidak akan terjadi di dunia,” tegasnya.
“Hal ini sebetulnya sudah saya tegaskan dalam pidato pada World Food Summit! di FAO Roma, Italia, tahun 2002, di hadapan para pemimpin negara. Saat itu saya menegaskan kelaparan akan terus terjadi di dunia ini apabila petani diabaikan dan pangan diurus korporasi dan diserahkan kepada pasar,” lanjutnya.
Dalam konteks Indonesia, Henry mengatakan persoalan pangan dan kelaparan masih menjadi masalah utama yang mendesak harus diselesaikan.
“Tingginya angka impor pangan dan ketimpangan penguasaan dan kepemilikan tanah menjadi problem utama ditegakkannya kedaulatan pangan di Indonesia,” sebutnya.
“Di Indonesia, penghapusan kelaparan dapat dicapai apabila pemerintah Joko Widodo – Jusuf Kalla melaksanakan komitmennya dalam Nawacita untuk menyelesaikan konflik agraria, menjalankan reforma agraria dan mewujudkan kedaulatan pangan,” lanjut Henry.
Henry mengemukakan, dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden RI (Perpres) Nomor 86 tahun 2018 tentang Reforma Agraria sebagai upaya mempercepat distribusi tanah seluas 9 juta hektar kepada petani dan rakyat tak bertanah dinilai dapat menjadi solusi atas permasalahan pangan di Indonesia.
“Sebagai upaya mewujudkan kedaulatan pangan, tanah-tanah obyek reforma agraria tersebut diperuntukan sebagai tanaman pangan yang dibudidayakan secara agroekologis dan dikelola oleh koperasi-koperasi petani. Hal ini sebagai langkah awal mengubah pertanian di Indonesia,” katanya.
Henry menilai, jangan ada penundaan lagi, saatnya sekarang untuk segera mendistribusikan tanah-tanah tersebut kepada petani tak bertanah dengan melibatkan organisasi petani, dan peran aktif pemerintah daerah serta koordinasi yang kuat pemerintah pusat di bawah pantauan langsung presiden secara terus-menerus.
Di akhir pernyataan, Henry menegaskan Zero Hunger World pada tahun 2030 semakin optimis bisa diraih dengan disahkannya Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani dan Rakyat yang Bekerja Diperdesaan di Jenewa, Swiss.
“Semoga deklarasi ini didukung dan disahkan pada Majelis Umum PBB bulan Oktober-Desember 2018 di New York, Amerika Serikat,” tutupnya.
Kontak selanjutnya:
Henry Saragih, Ketua Umum SPI – 0811 655 668

http://www.spi.or.id/hari-pangan-sedunia-2018-penghapusan-kelaparan-dunia-bukan-khayalan/
Share:

Waktu Sudah Habis bagi IMF, Bank Dunia, dan Sistem Keuangan Global

Siaran Pers La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional)
SERIKATPETANIREMBANG.COM - BALI. Dalam sebuah komunike yang dirilis di situs web Bank Dunia pada 13 Oktober di sela-sela Pertemuan Tahunan di Bali, Komite Pembangunannya sekali lagi mengakui tingkat utang yang meningkat, namun malah masih percaya pada peran penting dari perdagangan internasional untuk pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pembangunan berkelanjutan. Ini jelas-jelas menggambarkan bagaimana karakteristik lembaga ini yang memang hanya mementingkan “bisnis”. Perdagangan internasional dan sistem keuangan global yang dipromosikan oleh Bank Dunia, IMF, serta WTO hanya memperparah kemiskinan, bukannya meringankan atau memberantasnya.
Zainal Arifin Fuad, anggota Komite Koordinator Internasional La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) menegaskan alternatif dari sistem keuangan global yang menggurita ini sangat mungkin terwujud.
“Kita semua harus merancang kampanye lokal, nasional dan internasional yang kuat untuk membongkar arsitektur keuangan saat ini dan menggantinya dengan sistem perbankan kooperatif dan perdagangan berbasiskan solidaritas,” tegasnya di Bali (14/10).
“Alternatif tersebut harus mampu menciptakan sistem yang membantu negara yang membutuhkan, tanpa bermaksud untuk mengeksploitasi rakyatnya atau menggali sumber daya alamnya. Kami tidak membutuhkan IMF. Sebaliknya apa yang dibutuhkan dunia adalah Dana Solidaritas Internasional! Proses itu harus dimulai sekarang,” lanjutnya.
Zainal, anggota Koordinator Internasional La Via Campesina
“Gerakan sosial di seluruh dunia harus menyadari bahwa ketidakadilan yang kita hadapi bersama ini semuanya berhulu pada sistem global yang dikontrol oleh hanya beberapa orang multimiliarder — yang menguasai lembaga-lembaga tersebut; mereka inilah yang memutuskan kebijakan-kebijakan negara yang menjadi pasiennya,” tambah Ketua Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI) ini.
Sementara itu, Kim Jeongyeol daari KWPA (Organisasi perempuan petani Korea Selatan) mengemukakan, tidak satu pun dari lembaga-lembaga ini memiliki legitimasi yang tersisa untuk mewakili kebutuhan dan kepentingan petani kecil, buruh, masyarakat adat atau nelayan.
“Mereka harus pergi selama-lamanya,” tegasnya.
Hal senada disampaikan oleh Angel Strapazzon dari organisasi MNCI, Argentina. Ia menggarisbawahi, minggu kedua Oktober tahun 2018 ini menggenapkan 526 tahun invasi Eropa dan penjajahan Amerika.
“Ironisnya pada minggu ini pula para penjajah baru seperti IMF dan Bank Dunia ini sedang melakukan pertemuan untuk memuluskan agenda neoliberalnya,” katanya.
“Argentina sendiri baru berhutang 50 Miliar Dolar Amerika Serikat dari IMF, dengan syarat-sayarat yang sangat mencekik rakyat seperti dihapuskannya investasi publik, biaya jaminan sosial, dan lainnya,” tambahnya.
David Calleb Otieno dai KPL (organisasi petani dari Kenya) memaparkan, IMF hanya terus memberikan lebih banyak hutang dan mengeksploitasi jauh lebih banyak lagi.
“Mereka (IMF dan Bank Dunia) melakukan finansialisasi alam, yang berarti merebut tanah, danau, sungai kita secara paksa untuk dijual berupa dalam paket kepada perusahaan transnasional yang membunuh masyarakt dan komunitas kita. Bagaimana kita bisa memikirkan membagi lautan kita dan menjualnya? Nah, IMF dan Bank Dunia telah menemukan cara untuk memberikan harga nominal pada alam, berspekulasi, lalu merampasnya. Jika kita membutuhkan masa depan yang aman, lembaga-lembaga ini dan kepentingan yang mereka wakili harus lenyap,” paparnya.
Baramee Chairayat dari AOP Thailand menekankan, pasar petani lokal harus dihidupkan kembali, diperkuat dan dilindungi dari serangan liberalisasi perdagangan.
“Kita harus membangun sistem perdagangan yang menghormati hak masyarakat atas pangan yang sehat dan tepat secara budaya yang diproduksi melalui secara berkelanjutan dan berdaulat. Ini tentu saja tidak bisa dicapai dari Bank Dunia atau IMF yang bertujuan memelihara kapitalisme agar terus hidup,” imbuhnya.
Sementara itu, Claude Giroud dari Confederation Paysanne Perancis menyampaikan, peran perempuan petani dalam melawan sistem ekonomi global yang dipromosikan oleh IMF dan Bank Dunia memiliki peran vital.
“Petani perempuan mengalami penindasan dua kali lebih banyak dibandingkan petani laki-laki. Di La Via Campesina kita mempromosikan dan menekankan bahwa petani perempuan adalah ibu kedaulatan pangan,” ungkapnya.
Aksi simpatik GERAK LAWAN menolak IMF – Bank Dunia di Sanur, Bali, Oktober 2018
Zainal menutup, perjanjian perdagangan bebas, apa pun jenisnya baik bilateral, regional atau multilateral adalah alat masuknya proyek-proyek neoliberal ke negara-negara kita yang melahirkan privatisasi, deregulasi yang mengakar di negara kita.
“Itu hanya bisa kita lawan dengan membangun mekanisme perlindungan yang membela dan menegakkan hak-hak kita sebagai petani kecil,” sebutnya.
“La Via Campesina telah sampai kepada tahap akhir “Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani Kecil dan Masyarakat yang Bekerja di Pedesaan”. Deklarasi ini bisa digunakan sebagai alat atau mekanisme untuk menegakkan kedaulatan pangan dan melawan serangan sistem perdagangan global yang dibangun oleh WTO dan didukung penuh oleh IMF dan Bank Dunia,” tutupnya.
SPI yang tergabung dalam La Via Campesina beraliansi dengan Gerak Lawan (Gerakan Rakyat Melawan Neokolonialisme dan Neoliberalisme), menolak pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali, 8 – 14 Oktober 2018, dengan melakukan serangkaian diskusi dan aksi damai di Bali.
Share:

Dunia Tanpa Bank IMF - Bank Dunia: Wujudkan Kedaulatan Pangan dan Keadilan Sosial

SERIKATPETANIREMBANG.COM - BALI, 10 Oktober 2018 - Indonesia tengah menjadi tuan rumah bagi pertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF yang dimulai hari ini 10 sampai 14 Oktober 2018. Berbagai elemen masyarakat sipil ikut merespon agenda pertemuan tersebut. Gerak Lawan sebagai bagian kelompok masyarakat sipil juga turut merespon agenda yang diinisiasi oleh bank dunia dan IMF yang dilangsungkan di Bali. Dengan tajuk Rakyat Menggugat : World Beyond Bank.

Muhammad Reza Sahib, Koordinator Gerak Lawan menyampaikan, IMF dan Bank Dunia adalah dua lembaga yang kehadirannya sama sekali tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi rakyat dunia.

"IMF adalah sebuah kenihilan, kesia-siaan yang hakiki atas kontribusinya bagi kesejahteraan masyarakat dunia. Tak ada hal siginifikan yang berguna dilakukannya selama lembaga ini eksis di muka bumi. Yang miskin tetap saja miskin, malah makin miskin. Kedaulatan negara digerogoti," tuturnya.

"Selama lima hari ke depan Gerak Lawan akan melakukan serangkaian kegiatan mulai dari aksi damai, diskusi, dan pertunjukan budaya untuk menyuarakan penolakan atas kedua lembaga ini," lanjutnya.

David Calleb Otieno dari Kenyan Peasants League (Organisasi Petani Kenya) menyatakan di negaranya, IMF memaksakan paket reformasi yang terus menguntungkan para kreditor di Kenya. 

“Rasio utang Kenya pada PDB saat ini adalah sekitar 70 persen. Jadi hampir semua diprivatisasi: air, telekomunikasi, transportasi. Kenya bahkan punya ATM Air. Petani jadi kehilangan otonomi terutama atas benih dan kebijakan pertanian karena semuanya didorong untuk pencarian laba dan cash crops. Kebijakan ini semuanya didorong oleh Bank Dunia dan IMF,” paparnya.

Zainal Arifin Fuad, anggota Koordinator Internasional La Via Campesina menambahkan, IMF dan Bank Dunia juga berperan dalam mengkooptasi makna reforma agraria.

"Ada beberapa contoh di mana Bank Dunia dan IMF juga mencoba berbicara bahasa perjuangan tani dengan mendukung reforma agraria, tetapi itu sebenarnya adalah bentuk-bentuk reforma agraria berbasis pasar, reforma agraria palsu, bukan yang diinginkan komunitas petani,” sebutnya.

“La Via Campesina sebagai gerakan petani internasional akan terus menyuarakan perlawanan atas IMF – Bank Dunia, khususnya dalam pertemuan tahunan di Bali tahun ini,” sambung Ketua Departemen Luar Negeri, Serikat Petani Indonesia (SPI) ini.

-Bali Daulat Pangan-

I Nyoman Mardika dari Yayasan Manikaya Kauci, menyampaikan, selama ini di Bali sering diselenggarakan acara bertaraf internasional yang membuai rakyat Bali tentang hal-hal yang berbau turis dan pariwisata dan mengetahui esensi dan substansi sebenarnya dari acara tersebut.

"Rakyat Bali harus mengetahui esensi dan substansi dari pertemuan ini tuturnya, harus membangun konstruksi kritis," sebutnya.

"Memang 70 persen pendapatan daerah di Bali berasal dari pariwisata, namun di sisi lain, Bali kehilangan 800 - 1000 hektar lahan setiap tahunnya, dan 54 subag hilang selama lima tahun terakhir, ini data, ini fakta, berdasarkan Badan Pusat Statistik. Jadi saya mau menekankan, rakyat Bali jangan terbuai dengan pariwisata karena alih fungsi lahan sangat masif di Bali saat ini, Bali tidak berdaulat pangan," paparnya.

Sana Ulaili, petani anggota Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta menambahkan, dalam kesempatan ini mengajak semua peserta Gerak Lawan untuk memberikan solidaritasnya untuk menolak pembangunan NYIA (New Yogyakarta International Airport, Bandara baru di Yogyakarta).

"Pembangunan NYIA merampas hak-hak petani dan mengubah tatanan budaya dan sosial di Yogyakarta," tuturnya.

Perempuan petani dari Aceh Barat, Lina Mariana (Ketua SIMAB) menyuarakan kondisinya melalui puisi. Dalam baitnya "Di sawah inilah kami para perempuan ikut memperbaiki ekonomi, memperbaiki pangan menuju kesejahteraan". 

Media Centre Gerak Lawan
Kontak : +6287875313413


Gerak Lawan : 
Bina Desa, FPPI, IGJ, IHCS, JATAM, KIARA, KNTI, KRuHA, Manikaya Kauci, Solidaritas Perempuan, SNI, SPI, YLBHI
Share:

Popular Posts

Total Pageviews

Label

Gallery Kehutanan