Petani Singkong, Karet, dan Kakao Masih Merana

Sumber: ANTARA, dalam website 2017)

SELAMA Mei 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 100,15 atau naik 0,14% jika dibandingkan dengan NTP Bulan April.

Hal ini disebabkan kenaikan indeks yang diterima petani (0,73%) lebih besar dari kenaikan indeks yang dibayar oleh Petani (0,59 %).

Kenaikan NTP tersebut di antaranya dipengaruhi oleh kenaikan NTP tanaman pangan dan NTP hortikultura. Pada sub-sektor tanaman pangan, kenaikan NTP dipengaruhi oleh kenaikan indeks tanaman padi, jagung dan singkong. Sementara untuk sub-sektor hortikultura, kenaikan NTP dipengaruhi oleh kenaikan harga cabe merah dan wortel.

Kenaikan NTP tersebut diikuti oleh kenaikan harga-harga pangan. Inflasi tercatat sebesar 0,3 % dan kontribusi bahan makanan sebesar 0,86%. BPS mencatat bahwa komoditas yang memberi andil inflasi dalam hal ini adalah bawang putih, telur, daging ayam, beras, daging sapi, jengkol dan cabe merah.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menyampaikan, kenaikan harga pangan atau inflasi pangan sepertinya hal yang biasa menjelang bulan Ramadan, pada minggu terakhir bulan Mei. Henry menjelaskan, periode tersebut juga ditandai dengan banyaknya singkong impor.

“Kehadiran singkong impor menyebabkan rendahnya harga penjualan singkong, sehingga kenaikan NTP tanaman pangan kurang meningkat secara tajam, serta tentu saja menyengsarakan petani singkong lokal kita” kata Henry di Jakarta, Rabu (7/6), seperti dilansir keterangan resmi.

Senada dengan Henry Saragih, Tantan, Ketua SPI Jawa Barat menjelaskan, harga singkong mencapai Rp150 – Rp200 di lahan petani.

“Harga singkong tertinggi di Sukabumi Utara contohya, hanya sekitar Rp500 per kg, sementara harga normalnya Rp1.500 – Rp2.000 per kg, padahal produksi singkong petani SPI sangat tinggi. Akhirnya ya merugi,” papar Tantan.

Sementara itu, hal mengkhawatirkan lainnya adalah, kenaikan harga pangan justru lebih tinggi di perdesaan daripada di tingkat nasional. Tingkat kenaikan harga (inflasi) di perdesaan mencapai 0,74 % dan 1,43% kenaikan tersebut disebabkan oleh kenaikan harga pangan.

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/news/read/107940/slug-wzgj6y/2017-06-07 
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Total Pageviews

Label

Gallery Kehutanan