Fan's Food Khas Pemalang

(Nanas Madu asli dukuh Sodong, desa Sikasur,
kec. Belik, Pemalang) 
Fan's food merupakan usaha UMKM dibidang makanan khusus produksi olahan berbahan nanas dengan merk Vitanas yang merupakan komoditas pertanian dari Desa Sikasur kecamatan Belik Pemalang.

Produk olahan vitanas muncul dengan latar belakang bahwa hasil tanaman nanas yang berada di Belik langsung dijual kekota besar. Sehingga Fani, suami dan kelompoknya mencoba untuk mengolah menjadi produk minuman dan makanan yang keduanya merupakan ahli dibidang kesehatan terlebih Fani ahli gizi.

Awal usaha mulai dilakukan pada tahun 2012, masa uji coba pengolahan agar menjadi minuman dan makanan yang berkwalitas selama 6 bulan. Berkat kegigihan Fani dan suami Muhammad Sidqon dari mulai proses, kemasan dan penjualan akhirnya terbayar sudah bahwa olahan yang mereka produksi diterima oleh pasar terutama di kota-kota besar Jakarta, Surabaya, Surakarta dan lain-lain. Bahkan Istri Jokowi dan Yusuf Kalla sering pesan kerika stok mereka habis, pungkas Fani dan Sidqon.

(Aneka produk olahan nanas, dukuh Sodong, desa Sikasur, 
kec. Belik, Pemalang) 
Nanas yang mereka dapat dibeli secara langsung dari petani. Sehingga Petani sangat terbantu karena tidak melalui tengkulak. Buah nanas yang diperoleh juga harus memenuhi standart kwalitasnya, agar   minuman dan makanan yang dihasilkan juga berkwalitas. Dalam proses produksi juga melibatkan perempuan sekitar sehingga turut bantu perekonomian keluarga.

Minuman dan makanan yang diproduksi dari olahan nanas,yaitu jus, sirup, manisan, krupuk dan koktel. Rasanya dijamin memuaskan lidah. Berkat kwalitas rasa yang enak,  usaha ini mampu berkembang dan patut diperhitungkan dipasaran sehingga hasil yang didapat mempunyai daya tawar.

(Owner Fan's Foof khas Pemalang, Bu Fani dan Bapak Sidqon)
Ditahun 2015, Fan's food menjadi juara nasional dalam ajang " Pangan Award" dengan tema buah tropis inovatif. Sehingga nama produk Vitanas lebih dikenal oleh banyak kalangan, terutama kalangan pejabat. Fan's food juga sering mengikuti pameran pangan dan sering pula menjadi mentor dalam pengembangan produk minuman dan makanan didaerah lain.

Jurnalis: Mahmudi, SPI

Share:

Telaga Biru, Sodong Pemalang

(Aliran air pada Telaga Biru, desa Sikasur, Pemalang)

Dukuh Sodong, Desa Sikasur kecamatan Belik kabupaten Pemalang Jawa Tengah merupakan daerah pertanian subur yang mengedepankan pertanian alami dan kaya akan sumber daya mata air. Salah satunya adalah telaga biru di Sodong. Masyarakat sekitar menikmati air untuk irigasi, sedangkan mata air dialirkan ke desa Sikasur ke bawah hingga sampai di kota Pemalang.

(Telaga biru juga dimanfaatkan untuk supplai PDAM, Pemalang) 
Awal pengelolaan mata air telaga oleh PDAM Kabupaten Pemalang dibangun sekitar tahun 2010, dengan persyaratan warga Sikasur harus menerima bagian sebesar Rp 10,-/m3 dalam setahun yang sebelumnya permintaan warga butuh perjuangan keras.

(Telaga Biru yang dimanfaatkan untuk pertanian masyarakat)
Masyarakat dukuh Sodong sendiri tidak memanfaatkan air telaga biru untuk air bersih, melainkan dari desa sebelah yaitu Bulakan karena terkait biografis Sodong yang lebih tinggi sedangkan telaga lebih rendah. Sehingga kalau butuh air bersih dari telaga, harus menggunakan mesin maintenance dan tampungan untuk dialirkan warga Sodong.

Pengelolaan air bersih warga Sodong berasal dari desa Bulakan yang terletak di atas dukuh dengan sistem bayar sebesar Rp 500,-/m3. Ada 500 rumah yang sudah menjadi pelanggan. Paguyuban Mekar Tani dukuh Sodong adalah pengelola air bersih yang diketuai oleh Yusuf Hasyim atau lebih akrab dipanggil Yusyim.

Peran Husyim dan paguyuban mekar tani ini sangat berpengaruh dalam pengembangan masyarakat dukuh Sodong yang merupakan dukuh yang mengajukan pemekaran agar menjadi desa definit. Pengajuan untuk menjadi desa definit sudah dimulai dari tahun 2010, ditahun 2020 semoga sudah menjadi desa definitif dan sudah terjadi Pilkades, pungkas Yusyim. Cp.Yushim 087837185234

Jurnalis: Mahmudi, Sulang
Share:

Satrio, Petani Inovatif dari Pantura Sarang Rembang

PETANI INOVATIF: Irigasi putar di areal tanaman sawi dan padi. (Dok. Pertanian Rembang, 2018)
Desa Dadapmulyo, Kecamatan Sarang, merupakan desa di pantura Rembang yang belum kemasukan industri. Virus bertani yang terus ditularkan Satrio membuat warga lebih senang tetap memanfaatkan lahannya dari pada dijual ke pemilik modal industri.

Pantura Rembang dikenal sebagai kawasan yang gersang dan panas. Di tangan Satrio, kawasan tersebut mampu diubah menjadi kawasan pertanian yang produktif.

‘’Sejak 1970 petani sangat tergantung kepada pupuk kimia, yang dalam jangka pendek bisa menyuburkan tanaman, tapi dalam jangka panjang justru membuat tanah menjadi tidak subur,’’ tuturnya.

Satrio memilih meningkatkan bahan organik tanah dengan memperbanyak kompos yang sudah matang serta mengurangi pupuk kimia dan pestisida kimia. Inovasi bapak satu anak tersebut tidak berhenti di situ.

Kawasan pantura yang gersang, berhasil direkayasa menjadi lahan produktif dengan menciptakan irigasi sistem putar.

Sistem irigasi itu cukup efektif dan efisien melakukan pembasahan tanaman dengan jumlah air yang minimalis. Penghematan airnya mencapai hingga 50 persen.

Melalui perbincangan dia memberi tahu perlengkapan yang digunakan dalam pengembangan irigasinya. Antara lain, bahan paralon semua.Paralon 1/2" potong 25 cm 2 biji fungsi untuk baling-baling. Kemudian T 1/2" 1 biji dengan kiri kanan T dipotong sekitar 1 cm untuk laker sama penutup bawah. Paralon 1 in 10 cm buat puterannya. Kalau untuk putaran, itu karena tekanan air yang berasal dari tenaga pompa listrik sibel bukan diesel dari sumur bor.

Sistem irigasi tersebut sangat ideal diterapkan di kawasan pantura yang panas dan minim air tawar.

Berbagai inovasi Satrio tersebut menarik perhatian warga di desanya untuk mengikuti langkahnya. Sebagian warga setempat mantap bekerja sebagai petani di tengah banyaknya warga yang beralih ke pekerjaan lain.

Dia sangat terobsesi membuat petani menjadi mandiri. Semua kegiatannya ditentukan sendiri, sehingga petani memiliki daya tawar. ‘’Kalau petani mandiri, saya yakin kesejahteraannya akan meningkat,’’ tuturnya.

Satrio menekuni petani sejak usia 25 tahun. Dia mengikuti jejak ayahnya yang seorang petani. Seperti petani pada umumnya, saat itu hasil dari bertani tak menentu.

Dia sempat merangkap sebagai perbankan. Pada 2015, dia baru fokus bertani secara inovatif. Termasuk melakukan sinergi dengan ternak bebek.

‘’Alhamdulillah sejak itu, hasil dari bertani cukup menguntungkan dan diikuti warga lain, termasuk kawan-kawan kalangan muda. Saat itu saya berhasil membuktikan kalau bertani masih layak secara ekonomi kalau dilakukan secara sinergi,’’ tandasnya.

ditulis oleh : MAHMUDI, Sulang
Share:

Popular Posts

Total Pageviews

Label

Gallery Kehutanan