Satrio, Petani Inovatif dari Pantura Sarang Rembang

PETANI INOVATIF: Irigasi putar di areal tanaman sawi dan padi. (Dok. Pertanian Rembang, 2018)
Desa Dadapmulyo, Kecamatan Sarang, merupakan desa di pantura Rembang yang belum kemasukan industri. Virus bertani yang terus ditularkan Satrio membuat warga lebih senang tetap memanfaatkan lahannya dari pada dijual ke pemilik modal industri.

Pantura Rembang dikenal sebagai kawasan yang gersang dan panas. Di tangan Satrio, kawasan tersebut mampu diubah menjadi kawasan pertanian yang produktif.

‘’Sejak 1970 petani sangat tergantung kepada pupuk kimia, yang dalam jangka pendek bisa menyuburkan tanaman, tapi dalam jangka panjang justru membuat tanah menjadi tidak subur,’’ tuturnya.

Satrio memilih meningkatkan bahan organik tanah dengan memperbanyak kompos yang sudah matang serta mengurangi pupuk kimia dan pestisida kimia. Inovasi bapak satu anak tersebut tidak berhenti di situ.

Kawasan pantura yang gersang, berhasil direkayasa menjadi lahan produktif dengan menciptakan irigasi sistem putar.

Sistem irigasi itu cukup efektif dan efisien melakukan pembasahan tanaman dengan jumlah air yang minimalis. Penghematan airnya mencapai hingga 50 persen.

Melalui perbincangan dia memberi tahu perlengkapan yang digunakan dalam pengembangan irigasinya. Antara lain, bahan paralon semua.Paralon 1/2" potong 25 cm 2 biji fungsi untuk baling-baling. Kemudian T 1/2" 1 biji dengan kiri kanan T dipotong sekitar 1 cm untuk laker sama penutup bawah. Paralon 1 in 10 cm buat puterannya. Kalau untuk putaran, itu karena tekanan air yang berasal dari tenaga pompa listrik sibel bukan diesel dari sumur bor.

Sistem irigasi tersebut sangat ideal diterapkan di kawasan pantura yang panas dan minim air tawar.

Berbagai inovasi Satrio tersebut menarik perhatian warga di desanya untuk mengikuti langkahnya. Sebagian warga setempat mantap bekerja sebagai petani di tengah banyaknya warga yang beralih ke pekerjaan lain.

Dia sangat terobsesi membuat petani menjadi mandiri. Semua kegiatannya ditentukan sendiri, sehingga petani memiliki daya tawar. ‘’Kalau petani mandiri, saya yakin kesejahteraannya akan meningkat,’’ tuturnya.

Satrio menekuni petani sejak usia 25 tahun. Dia mengikuti jejak ayahnya yang seorang petani. Seperti petani pada umumnya, saat itu hasil dari bertani tak menentu.

Dia sempat merangkap sebagai perbankan. Pada 2015, dia baru fokus bertani secara inovatif. Termasuk melakukan sinergi dengan ternak bebek.

‘’Alhamdulillah sejak itu, hasil dari bertani cukup menguntungkan dan diikuti warga lain, termasuk kawan-kawan kalangan muda. Saat itu saya berhasil membuktikan kalau bertani masih layak secara ekonomi kalau dilakukan secara sinergi,’’ tandasnya.

ditulis oleh : MAHMUDI, Sulang
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Total Pageviews

Label

Gallery Kehutanan