DISKUSI PRAKTIK-PRAKTIK KELOLA DANA DESA


Undang Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa mempunyai misi mulia, yaitu adanya transformasi ekonomi politik di desa yang diharapkan bisa mendorong kemandirian dan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Desa didorong menjadi lebih demokratis secara politik, dan mandiri secara ekonomi dengan mengoptimalkan aset yang dimilikinya.

Untuk mendorong kemandirian desa tersebut, desa diberikan keleluasaan merumuskan kewenangan yang bisa dijalankan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa. Untuk menjalankan kewenangannya, desa mendapatkan transfer dana dari pemerintah pusat yang bersumber dari APBN yang kemudian disebut dengan dana desa sebagai salah satu sumber pendapatan APBDesa. Selain dana desa, sumber-sumber pendapatan desa yang lain adalah pendapatan asli desa, bagi hasil pajak dan retribusi daerah, alokasi dana desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima kab/kota, bantuan dari pemerintah provinsi dan pemerintah kab/kota, serta hibah dan sumbangan tidak mengikat dari pihak ketiga.



Jika menilik pada pemahaman di atas, maka sebenarnya dana desa bukanlah bantuan pemerintah pusat kepada desa. Dana desa merupakan hak desa yang mesti dipenuhi oleh pemerintah pusat dalam rangka mendorong konsolidasi pembangunan, mendorong kemandirian dan kesejateraan desa. Dalam menyusun prioritas pembangunan yang dialokasikan dalam APBDesa, prioritas pembangunan mesti disepakati dalam musyawarah desa (Musdes) dan disesuaikan dengan prioritas pembangunan pemerintah supra desa.

Empat tahun implementasi UU Desa sudah banyak praktik-praktik baik yang dilakukan oleh desa dalam penggunaan dana desa. Diskusi kali ini di Kabupaten Rembang untuk mengetahui pengalaman desa-desa di Kabupaten Rembang dalam pengelolaan dana desa.



Diskusi Serial Dana Desa kali ini membahas tentang praktik-pratik pengunaan dana desa yang dilakukan oleh desa yang mempunyai misi untuk kesejahteraan warga desa.

Rumusan masalah diskusi:
Ada tiga pertanyaan besar yang hendak dijawab dalam diskusi ini :
1. Bagaimana desa menentukan prioritas penggunaan dana desa?
2. Bagaimana upaya pemerintah desa mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan di desanya?
3. Bagaimana pemerintah desa memperkuat akuntabilitas social penggunaan dana yang masuk ke desa?

Tujuan:
Tujuan diskusi ini adalah
1. Mengabarkan praktik-praktik baik pengelolaan dana desa khususnya dan APBDesa pada umumnya agar menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia
2. Mendorong peningkatan kualitas akuntabilitas social pembanguan di desa


Narasumber :
1. Dwi Sulistyo (Dinpermades Kab. Rembang)
2. Sujarwo (Kepala Desa Kabupaten Rembang)
3. Arie Sujito (Pengasuh Sanggar Maos Tradisi)
4. Sg Yulianto (Deputy Pengembangan SDM dan Kelembagaan IRE)


Peserta Diskusi:
Diskusi ini akan mengundang Pemerintahan Desa, Perangkata Desa, Penggiat BUM Desa, Aktivis NGO, Akademisi, Mahasiswa, Media Massa, dan Aktivis Ormas.

Waktu dan Tempat:
Kegiatan diskusi publik ini akan dilaksanakan pada:
Hari, tanggal : Rabu, 1 Agustus 2018
Waktu : 09.00 s/d selesai
Tempat : Kompleks Makam Kartini, Bulu Jawa Tengah.

Penyelenggaran:
Penyelenggara IRE, Lontar Institute, Sanggar Maoh Tradisi kerjasama, Guru Pendowo, dan SPI Cabang.
(Admin SPI Rembang/ 2018)

Share:

PROFESI TANI DAN TERNAK DIRIKAN YAYASAN PENDIDIKAN PAUD



SERIKATPETANIREMBANG.COM - Sutrisno Bapak usia 55 tahun, suami dari Endang Nur Sayekti yang tinggal di Desa Panohan kecamatan Gunem ini kesehariaanya adalah bercocok tanam dan beternak sapi. Sutrisno juga pernah menjadi pengaja di MTS N 1 Sulang karena beliau, merupakan lulusan PGA Lasem kala itu.

Pilihan profesi yang dia tekuni membuat hati terasa tentram. Apalagi ketika beliau mampu mendirikan Yayasan Pendidikan yaitu PAUD dan Kelompok Bermain Al-Ihlas sejak tahun 2012 hingga sekarang. Dalam usia muda, beliau mengaku pernah berguru kepada Almarhum KH. Wahab Husein di Ponpes Binnur Sulang.

Selain beraktifitas bidang pertanian, peternakan, dan pendidikan, Beliau juga mengabdikan diri di masyarakat desa Panohan selaku Ketua Rukun Warga (RW). Selain itu juga menjadi ketua LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Huta) desa Wonokaryo.

Saat ini Sutrisno menggarap lahan sekitar seperempat hektar, itupun bukan lahan milik pribadi, yaitu tanah milik tetangga. Tanaman jagung, cabai dan sela gulutan ditanami rumput gajah odot menjadi tanaman siklus atas tanah sewa tersebut. Ia juga selalu rajin membawakan pakan ternaknya, usai merawat tanamannya.


Terkait ternak, awalnya memelihara domba atau wedus gibas dengan fokus penggemukan sebanyak 30 ekor pejantan dengan kandang panggung. Dari setiap 1 ekor penggemukan pejantan, mendapatkan mencapai 400-500 ribu dalam jangka waktu dua bulan. Sutrisno fokus pengembang biakan sapi indukan sejumlah dua ekor disaat usia senjanya. Jenis sapi yang digemukkan adalah jenis peranakan sapi brahma dari indukan sapi lokal dengan kawin suntik. Biasanya, dalam kurun waktu 6-7 bulan, anakan sapi dapat terjual sekitar 13 juta rupiah.

Pakan sapi berasal dari rumput tanam sendiri dengan tambahan dedak serta campuran dami/jerami kering yang ditimbun mana kala panen padi telah tiba. Hasil inilah yang dia gunakan untuk menghidupi istri dan dua anak serta mengembangkan keberlangsungan dari lembaga pendidikan PAUD yang Ia dirikan. Masyarakat yang belajar di PAUD Sutrisno ini, tanpa dipungut biaya alias gratis.


Sutrisno berharap ada santunan untuk membantu dalam pengembangan gedung baru. Karena tempat belajar yang ada berada di rumah dengan ukuran sektar 3m x 6m tidak dapat menampung 27 anak didiknya.

Keterangan Yayasan Pendidikan
Nama: Sutrino
Lembaga Pendidikan: PAUD dan Kelompok Bermain Al-Ihlas
Alamat: Jalan Sulang - Gunem KM 07, desa Panohan Rt. 02 Rw. 01 kecamatan Gunem kabupaten Rembang
Status: Gratis tanpa memungut biaya
Handphone: +62 853-3621-9743

(Admin SPI Rembang/ 2018)

Share:

KERAJINAN PELEPAH PISANG


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Burhanudin merupakan pria anak dua warga Cikalan Pamotan yang memanfaatkan pelepah pisang dengan karya yang lebih manfaat dan bernilai ekonomis. Saat ini ada beberapa karya yang dihasilkan, diantaranya tempat tisu, vas bunga, tempat lampu.

Ada beberapa tips yang dilakukan untuk menghasilkan karya. Proses pertama pemilihan bahan baku dari pelepah pisang dengan mengambil pelepah yang sudah tua. Lalu dibelah menjadi 2 kemudian dijemur diterik matahari hingga mengering. Kemudian membersihkan selaput benang yang tersisa setelah dijemur. Lanjut dengan menggosok pelepah yang kering dengan pemanas biar tekstur dan pelepah menjadi kencang dan lurus agar tidak keriput.

Setelah itu, ambil kertas karton atau sejenisnya guna menempelkan pelepah dengan lem kayu. Kemudian, ketika sudah tertempel baru memotong sesuai pola agar bisa dibuat karya yang diinginkan.

Setelah jadi,proses finising dengan melapisi clear biar tambah motif warna dan kualitasnya.

Proses pembuatan mulai dari awal hingga menghasilkan sebuah karya sampai finishing sekitar 5 hari. Kalau cuaca panasnya mendukung bisa dipersingkat menjadi 2 hari. Selain pemanfaatan pelepah pisang, ada juga karya yang berbahan dasar dari pohon kates/pepaya yang sudah kering.


Pasar yang dijangkau selama ini dengan menerima pesanan dari luar kota. Seperti, Kudus, Magelang dll. Harga persatuan karya sekitar 30 ribuan. Burhan berharap agar karya yang dihasilkan bisa mempengaruhi masyarakat sekitar melalui berdaya bersama. Sehingga, menimbulkan sistem ekonomi kreatif yang kolektif. (Admin SPI Rembang/ 2018)

Share:

Semanis Gula Tebu: Sebuah Pesan Pendek dari Masyarakat Sulang


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Salah satu Petani tebu yang mengawali budidaya tanaman tebu di Sulang kabupaten Rembang adalah Almarhum KH. Wahab Husein, Pengasuh Ponpes Zumrotut Tholibin dan Nurul Firdaus (BINNUR) Kauman sekitar tahun 1982. Tebu yang dibudidaya kala itu hambatannya cukup unik yaitu masyarakat sekitar masih sering mengambil disaat tebu belum dipanen, apalagi anak-anak kecil, dengan penuh tawa Abdul Azhim (Gus Azhim) Putra dari Kiai Wahab bercerita. Hal tersebut juga diamini oleh masyarakat sekitar Sulang.

Bermula dari Kiai Wahab yang menanam sekitar 10 hektar tanaman tebu di Rembang khususnya di Sulang mengalami perkembang cukup baik, meski masih terkendala hal-hal teknis dan pemasaran. Budidaya tebu merambah ke Petani sekitar hingga Santri-santri Kiai Wahab. Salah satu Santri yang turut menanam tebu hingga saat ini adalah Mariyono.


Mariyono merupakan warga Blora yang nyantri di Kiai Wahab Kauman Sulang dan sekarang menetap di Karangharjo Sulang. Saat ini luasan lahan yang dikelola untuk budidaya tebu sekitar 200 hektar bersama kelompok binaan. Kalau tanam sendiri sekitar 5 hektar sebagian sewa selama empat tahun sebesar 10 juta, tergantung kondisi dan letak lahan. Kelompok binaan saat ini mempunyai brak atau pabrik giling tebu untuk menjadi gula merah sebanyak 6 brak.

Dalam 1 brak membutuhkan pasokan tebu sebesar 10 ton/hari dengan menghasilkan gula merah sekitar 8,5 kwintal hingga 1 ton. Panen dilakukan ketika tanaman sudah berusia 8 bulan hingga 1 tahun. Namun rata-rata di Rembang panen dilakukan ketika tebu usia 1 tahun, karena terkait kondisi tanah.


Kisaran harga tebu kali ini, Rp. 320/kg sedangkan gula merah hanya Rp. 6.400,-/kg. Padahal di tahun 2015 harga gula merah mencapai Rp. 7.500,-/kg. Mayoritas Pengrajin gula yang masih eksis sudah memiliki alat giling sendiri. Kalau semisal belum punya alat, mereka harus sewa dengan sekitat 66-67 ribu. Normal pendapatan harus mencapai 10%, yang saat ini hanya 3% saja karena terkait harga gula jadi. Jadi kalau Petani tebu yang selama ini belum punya alat giling sendiri, kebanyakan sudah tutup. Karena biaya sewa alat juga mahal.

Ungkap Mariyono, sebenarnya giling tebu untuk menjadi gula merah kali ini belum dapat keuntungan karena sudah terpangkas biaya produksi. Kegiatan ini dilakukan karena sudah menjadi pekerjaan. Petani berharap agar kebijakan Pemerintah terkait gula merah berpihak kepada mereka karena gula merah belum dianggap kebutuhan pokok. (Admin SPI Rembang/2018)

Share:

DAHLAN PANEN TEMBAKAU


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Desa Karangharjo kecamatan Sulang merupakan desa sentral Petani tembakau di kabupaten Rembang yang melakukan penanaman musim kemarau pasca panen padi.

Dahlan salah satu Petani tembakau di Karangharjo yang termasuk panen awal. Sebar benih atau mbedeng tembakau dilakukan pada 25 Maret, kemudian setelah umur bibit 40 hari penanaman dilakukan secara massal di lahan yang sudah disiapkan.

Ramijah istri Dahlan mengaku, pada musim kali ini mereka tanam seluas satu hektar lahan. Masing-masing area lahan sebagian sewa. Dalam luasan setengah hektar harga sewa sebesar Rp. 2,8 juta  selama musim tanam tembakau. Sebagian lahan yang disewa berada di desa Tanjung dan Sulang. Kalau di Desa Karangharjo sendiri lahan sewa sudah mencapai harga 5-6 juta dengan luas setengah hektar.


Dalam musim tanam kali ini, tanaman tembakau milik Dahlan mencapai 25 daun yang kemudian dilakukan proses pemunggelan/punggel dengan cara memotong pucuk tanaman dan ditetesi obat agar tidak muncul sogleng/trubus baru pada tangkai. Sehingga daun bisa lebar dan tebal. Kalau pada musim tanam masih ada hujan, daun 30 baru dipunggel. Di musim ini, Dahlan bersama Petani tembakau yang lain mengaku terkendala masalah air untuk penyiraman. Tanaman milik saya seluas 2 Ha juga kurang air, tambah Mariyono yang juga Petani tembakau dan sekaligus ketua APTI ( Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Rembang.


Menurut pengakuan Dahlan, rincian biaya yang dikeluarkan dalam satu musim tanam dengan luas 1 Ha sekitar 15 juta belum termasuk sewa lahan. Hasil yang didapat sekitar 60 juta per hektar. Namun itu hanya perkiraan, karena sebagian besar Petani kurang merinci secara detail. Mariyono menambahkan perkiraan global biaya produksi pra-tanam hingga pasca panen sebesar 30-35 juta sudah termasuk sewa lahan.

Harapan mayoritas dari Petani tembakau di Rembang. Semoga harga yang didapat sesuai mutu kualitas hasil rajang kering daun tembakau, karena musim kali ini sangat panas sehingga berpengaruh pada kematangan dan ketebalan daun. Dan semoga pada saat panen kali ini, harapannya hujan belum turun karena menyangkut proses pengeringan bawah terik matahari. (Admin SPI Rembang/ 2018)

Share:

TEMBAKAU REMBANG


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Tanaman tembakau mulai dibudidayakan lagi oleh Petani di Rembang sekitar tahun 2009. Saah satu inisiator yang mengajak PT. sadana Arifnusa adalah Mariyono, Petani asal Karangharjo kecamatan Sulang sekaligus Ketua APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Rembang.

Pada mulanya tanaman tembakau di Rembang hanya seluas 1 Ha area lahan. Minat dan antusias Petani yang begitu besar, karena hasil yang didapat dirasa menguntungkan dan mensejahtetakan hingga saat ini luasan lahan mencapai 4.500 hektar. Tanaman tembakau dianggap penting untuk dikembangkan, karena selain meningkatkan kesejahtetaan Petani tembakau sendiri juga berpengaruh pada pendapatan kabupaten Rembang melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCT). Makanya kita berjuang untuk selalu mengajak Petani untuk budidaya tembakau karena mempunyai pengaruh baik dan luas untuk Rembang, ungkap Mariyono.

Penerimaan DBHCT yang didapat Rembang kali ini mencapai Rp. 18 Milyar, sangat signifikan dibanding awal-awal penanaman 2010 yang hanya Rp. 2 Milyar. Dana tersebut dibagi menjadi dua kategori. Pertama, Block Green sebesar 50% yang menjadi kewenangan Pemda Rembang untuk pembangunan infrastruktur yang terkait pertanian dan perkebunan. Kedua, Specifik green sebesar 50% yang digunakan untuk peningkatan mutu dan kualitas tembakau.

PT. Sadana Arifnusa merupakan perusahaan yang menjalin kemitraan dengan Petani tembakau di Rembang. Terkait grade mutu kualitas tembakau yang berwenang penuh adalah pihak perusahaan. APTI maupun Pemda belum mampu berpengaruh penuh terkait standart mutu kualitas tembakau. Namun tembakau di Rembakau tergolong tembakau dengan kadar TAR terendah dibanding daerah Wonosobo dan Temanggung. Tetapi ada perbedaan tembakau Rembang lebih banyak dalam segi kuantitas produktifitasnya.

Tembakau rajang kering di Rembang dalam luasan 1 hektar mampu menghasilkan 2 ton, sedangkan di Temanggung, Wonosobo hanya mencapai kisaran 5-7 kwintal/hektarnya, pungkas Mariyono Ketua APTI Rembang.

Harapan dari Petani yang bermitra dengan pihak Sadana, mengharap agar pihak perusahaan melakukan pembinaan, pendampingan, pemberdayaan kepada Petani secara penuh dalam peningkatan mutu tembakau dan kesejahteraan Petani serta adanya toleransi harga terhadap mutu kualitas tembakau. 

Dukungan pemerintah yang selama ini untuk Petani sangat membantu terkait subsidi pupuk sesuai RDKK yang bisa dipertanggung jawabkan. Tentu masih terdapat kekurangan yang menguatkan dan keberpihakan Petani, sehingga Pemerintah bersama Legislatif segera mewujudkan Perda yang saat ini masih Raperda tentang Perlindungan dan pemberdayaan Petani sesuai Undang-Undang No. 19 Tahun 2013 yang telah diuji materi di Mahkamah Konstitusi, tambah Mahmudi Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Rembang.

Share:

RAKIMIN PEMBUAT TOPI LONTAR


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Rakimin merupakan sosok pria paruh baya yang membuat produk unik dari daun lontar. Rakimin berasal dari Desa Jatimudo kecamatan Sulang.

Daun lontar biasa juga digunakan sebagai wadah jajanan yang dikenal dengan nama Dumbek. Selain untuk jajanan dia memanfaatkan untuk menghasilkan sebuah karya produk topi.


Topi yang dibuat Rakimin terlihat unik dan nyentrik. Meski terbuat dari daun lontar desain topi bisa sesuai pesanan. Selama ini memang belum dipasarkan secara bebas. Hanya sebatas melayani pesanan saja. Karena dari hasil produk yang dibuat ini,kalau belum ada kepastian pasarnya Rakimin belum berani bertindak banyak sebagai kegiatan yang bernilai ekonomis vital.


Dalam proses untuk mendapatkan satu topi, butuh jangka waktu pembuatan tiga hari. Dengan tahap satu hari untuk pengeringan daun ( jangan terlalu kering) agar bisa dirajut. Kemudian dua hari untuk proses perajutan agar menjadi sebuah produk.

Harga topi yang dihasilkan, berkisar 50-70 ribu sesuai dengan bentuk model dan kerumitan dalam pembuatannya.

Semua proses dalam pembuatan, sebenarnya sangat mudah dan sederhana. Cuma tinggal ada tekad, kesabaran dan ketelitian saja, pungkas Rakimin. (Admin SPI Rembang, 2018)

Share:

KERAJINAN KLOSO ATAU TIKAR PANDAN


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Dalam era milenial dan perkembangan zaman yang semakin pesat. Terdapat perubahan dan pergeseran yang cepat pula. Banyak keragaman suku, budaya, adat istiadat dan tradisi bangsa Indosesia khususnya di Rembang Jawa tengah.

Salah satu khas dan keunikan dari masyarakat yang mulai tergerus oleh perubahan adalah Kloso atau tikar pandan.

Keri, merupakan perempuan tua kelahiran 1946 yang berasal dari desa Kunir kecamatan Sulang kabupaten Rembang yang menekuni kerajinan Kloso.

Dalam pembuatan kloso, Keri mendapatkan bahan dari hutan atau pekarangan kampung sekitar desa bahkan kecamatan.

Satu produk kloso butuh waktu sekitar 6 hari dalam pengerjaannya agar menjadi sebuah produk dengan ukuran 1,5 meter x 1,7 meter. Satu hari untuk mengambil bahan, satu hari untuk derehi dan pengeringan. Kemudian waktu pembuatan atau merajut, butuh waktu empat hari empat malam.

Jadi, waktu satu bulan hanya bisa menghasilkan empat kloso saja. Satu  kloso dijual dengan harga Rp. 30.000,-/kloso. Pendapatan dari Keri sekitar Rp. 120.000,-/bulan dari pembuatan kloso.

Keri adalah perempuan tangguh, janda tua beranak dua yang ditinggal Almarhum Nargo Junedi ketika anak pertamanya berusia 10 tahun.

Dari hasil produk kloso tersebut, Keri memasarkannya di Pasar Rembang. Berangkat dari rumah jam 04.00 pagi naik angkut brondol bersama kawan-kawannya dan balik sampai rumah lagi sekitar jam 10.00 WIB.
Share:

PETIK BUAH SIWALAN


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Disaat pagi menjelang siang, di Desa Jatimudo kecamatan Sulang kabupaten Rembang. Rakimin sedang memetik tanaman siwalan yang merupakan tanaman unik yang berada di Kabupaten Rembang. Sentralnya banyak tersebar di desa-desa wilayah kecamatan Sulang.


Rakimin memetik sendiri buah siwalan tersebut dengan memanjat sekitar 25 meter dengan menggunakan bantuan rajutan daun lontar kering sebagai alat bantu meluk pohon. Kemudian bawa parang atau sabit, serta tambang untuk menurunkan buah siwalan agar tidak rusak.

Hasil yang didapat kali ini cukup banyak. Buah Siwalan dibeli oleh pengumpul sebesar Rp 1.000,- sampai tanah.


Satu buah siwalan, biasanya terdapat 3 biji siwalan. Kemudian lanjut proses pengupasan dengan sabit. Pagi mulai petik sampai kupas ini butuh waktu sampai sore. (Admin SPI Rembang/ 2018)
Share:

TOPI LONTAR SULANG REMBANG JAWA TENGAH


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Kreatifitas warga yang perlu dikembangkan di Rembang, khususnya wilayah kecamatan Sulang yang menjadi basis dari tanaman lontar. Ada beberapa desa yang menjadi pusat tanaman lontar, yaitu Tanjung, Jatimudo, Karangharjo, Kunir, Landoh, Glebek, Bogarame, Pranti, Pragu, Seren, Pedak, Karangsari dan Kebonagung.

Ungkap dari beberapa Kepala desa Tanjung (Ervin), Kebonagung (Lastari) yang dihubungi via telpon, mereka menyatakan kreatifitas warga  terkait hasil dari alam yang bisa dikembangkan salah satunya karya daun lontar kering ini bisa dimaksimalkan. Sehingga pendapat ekonomi warga bertambah serta dapat menjadi salah satu ikonik dari kabupaten Rembang yang patut dipasarkan.

Selain air legen, siwalan, gula merah yang dapat dipetik hasilnya. Topi kreatifitas warga ini perlu dikembangkan secara masif baik individu maupun kolektif sehingga masyarakat dapat menerima kebermanfaatan yang lebih. Semua butuh bersinergi satu sama lain. Warga, Pemdes, Legislati, Pemda dalam hal ini dinas terkait perlu duduk bersama dalam pemanfaatan alam yang ada di sekitar Kabupaten Rembang. Demi terciptanya mandiri ekonomi tanpa menghilangkan identitas suatu daerah.(Admin SPI Rembang/2018)

Share:

Foto Kegiatan Koperasi Petani Indonesia (KPI) Makmur Jaya Lestari





















Share:

Struktur Koperasi Petani Indonesia (KPI) Makmur Jaya Lestari



SERIKATPETANIREMBANG.COM - Terkait struktur Koperasi Petani Indonesia (KPI) Makmur Jaya Lestari, berikut ini adalah susunan struktur KPI Makmur Jaya Lestari, berdasar hasil Rapat Anggota. 

PENGURUS 

Ketua                : Abdul Azhim, S. IP
Wakil ketua I    : Marjuki
Wakil ketua II  : Drs. Nur Ihsan
Sekretaris I       : Aries Setiawan
Sekretaris II     : Mahmudi
Bendahara I     : Tika Nurwiati
Bendahara II    : Tri Ema Marini

PENGAWAS

Ketua           : Abdal A’la
Anggota       : Suwito Harahap
Anggota       : Sajam
Anggota       : Rochmat Solikhin
Anggota       : Syamsul Ma’arif

Sumber: Rapat Anggota, tanggal 19 Juli 2018
Share:

Koperasi Petani Indonesia Berlandaskan Kekeluargaan Demi Kesejahteraan


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Koperasi Petani Indonesia (KPI) Makmur Jaya Lestari beralamat di Jl. Rembang - Blora Km. 12 Desa Sulang, Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang 59254.

Salah satu pembahasan krusial yang disepakati bersama yaitu tentang iuran pokok sebesar Rp. 100.000,- dan iuran wajib sebesar Rp. 25.000,-/bulan. Kesepakatan ini menjadi sah, manakala anggota rapat saling menghendaki.

Anggota terdiri dari berbagai macam unsur yang noyabene mayoritas Petani dan Peternak yang ada di Kabupaten Rembang. Selain itu pula, banyak dari Kabupaten lain yang tertarik ikut bergabung dalam KPI Makmur Jaya Lestari. Seperti kabupaten Blora dan Demak.

Koperasi Petani Indonesia (KPI) Makmur Jaya Lestari, menerima anggota dari manapun dan terbuka,transparan,akuntable,Profesional yang berlandas kekeluargaan demi kesejahteraan bersama.
Salah satu ungkapan Azhim (Gus Azhim) selaku Ketua KPI mengutip sebuah hadist, bahwa “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum”. Kaum dalam tanda kutip bisa kelompok/lembaga/organisasi yang terdiri dari beberapa Sekumpulan Perorang/personal yang menyatu dan melakukan gerakan untuk kemaslakhatan banyak orang/orang lain. (Admin SPI Rembang/2018)

Share:

Proses Rapat Pembentukan KPI Makmur Jaya Lestari


SERIKATPETANIREMBANG.COM. Mengingat proses pra terbentuknya KPI Makmur Jaya Lestari yang cukup lama. Alkhamdulillah, pada siang ini KPI di Rembang terwujud. Terdapat sekitar 47 yang terdiri dari Petani dan Peternak yang hadir dalam rapat pembentukan, terlihat geliat semangat dan kompak demi mewujudkan sistem ekonomi yang berlandas kekeluargaan dan berkeadilan, papar Azhim.

Sebuah proses yang cair dalam suasana rapat meski terdapat kendala terkait beberapa usulan dari calon pengurus dan anggota yang hadir. Namun suasana yang berjalan secara demokratis akhirnya membuat titik temu yang disepakati dan dikehendaki bersama.

Acara dibuka oleh Pemandu acara Tika selaku Bendahara dengan bacaan basmalah bersama. Kemudian disambung dengan sambutan Ketua KPI Makmur Jaya Lestari Abdul Azhim. Lanjut dengan sambutan dan paparan dari DiinindagkopUKM, Moch. masrup selaku Kasi kelembagaan.
Masrup memberi sambutan baik kepada petani dan peternak di Rembang yang guyub dan sadar akan arti pentingnya sebuah kebersamaan yang terorganisir. Selain memberi sambutan yang baik dan hangat, Masrup selaku Kasi kelembagaan Dinindagkop memberi beberapa paparan yang terkait koperasi dengan segala teknisnya menuju proses yang legal.


Petani dan peternak yang tergabung dalam KPI Makmur Jaya Lestari juga memberi seruan yang hangat dan mengucap syukur bahwasanya DinindagkopUKM bersedia hadir dan memberi paparan yang bermanfaat untuk kemajuan koperasi, sambut peserta rapat dan disampaikan secara resmi oleh Ketua Koperasi Petani Indonesia Makmur Jaya Lestari Abdul Azhim atau lebih dikenal sebagai Gus Azhim.

Menuju akhir acara ditutup dengan doa yang sebelumnya dilakukan dengan sesion tanya jawab. Doa dipimpin oleh Nur Wahyudi petani dan peternak yang tergabung pula dalam KPI Makmur Jaya Lestari berasal dari kecamatan Bulu. (Admin SPI Rembang/2018)


Share:

Koperasi Petani Indonesia (KPI) Makmur Jaya Lestari Resmi Terbentuk


SERIKATPETANIREMBANG.COM. Siang ini, melakukan rapat pembentukan Koperasi Petani Indonesia (KPI) “Makmur Jaya Lestari” di gedung Aula Ponpes Zumrotut tholibin Binnur Sulang. Rapat dihadiri Petani, Peternak serta dari DinindagkopUKM kabupaten Rembang yang diwakili Moch. Masrup (Kasi kelembagaan) dan M. Risky Surya (Penyuluh Koperasi).

“Berdasarkan Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, perekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaa; dan bangunan ekonomi yang sesuai dengan itu adalah koperasi. Dalam penjelasan Pasal 33 koperasi ditempatkan sebagai sokoguru perekonomian nasional dan juga sebagai bagian integral tata perekonomian nasional,” Papar Masrup Kasi kelembagaan DinindagkopUKM kabupaten Rembang.

Azhim selaku Ketua KPI Makmur Jaya Lestari mengungkapkan. Pada masa lalu, koperasi petani pernah menjadi lembaga yang berperan besar dalam bidang pertanian, peternakan dan pembangunan perdesaan. Program-program pemerintah untuk membangun masyarakat pedesaan, seperti distribusi pupuk, benih, dan pengadaan gabah dilakukan melalui koperasi dengan nama Koperasi Unit Desa (KUD). Sayangnya, tidak semua KUD yang didirikan dan difasilitasi saat itu, yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat pedesaan khususnya petani. Hal ini disebabkan dalam implementasinya, KUD saat itu lebih kepada hanya sekedar pemenuhan regulasi atau kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Anggota koperasi cenderung pasif bahkan tak aktif karena semua operasional KUD di dominasi oleh badan pengurus saja.


“Peran koperasi di sektor pertanian dan peternakan ini sangat penting dalam mensejahterakan anggota koperasi, memajukan tatanan ekonomi di pedesaan, daerah dan nasional dan tujuan besarnya adalah mensejahterahkan masyarakat tani di pedesaan. Ada satu keyakinan, bahwa dengan kelembagaan koperasi lah distribusi kesejahteraan ekonomi bangsa ini akan merata sampai di rumah-rumah petani,” tambah Mahmudi Ketua Serikat Petani Rembang.

Mahmudi melanjutkan, peran koperasi makin penting untuk melawan sistem ekonomi pasar bebas yang semakin menggerus ekonomi rakyat melalui perjuangan ekonomi yang mengusung kolektifisme dan bukan individualisme. Pasar bebas hanya menguntungkan korporasi dan sekelompok orang saja. (Admin SPI Rembang/2018)

Share:

Popular Posts

Total Pageviews

Label

Gallery Kehutanan