Semanis Gula Tebu: Sebuah Pesan Pendek dari Masyarakat Sulang


SERIKATPETANIREMBANG.COM - Salah satu Petani tebu yang mengawali budidaya tanaman tebu di Sulang kabupaten Rembang adalah Almarhum KH. Wahab Husein, Pengasuh Ponpes Zumrotut Tholibin dan Nurul Firdaus (BINNUR) Kauman sekitar tahun 1982. Tebu yang dibudidaya kala itu hambatannya cukup unik yaitu masyarakat sekitar masih sering mengambil disaat tebu belum dipanen, apalagi anak-anak kecil, dengan penuh tawa Abdul Azhim (Gus Azhim) Putra dari Kiai Wahab bercerita. Hal tersebut juga diamini oleh masyarakat sekitar Sulang.

Bermula dari Kiai Wahab yang menanam sekitar 10 hektar tanaman tebu di Rembang khususnya di Sulang mengalami perkembang cukup baik, meski masih terkendala hal-hal teknis dan pemasaran. Budidaya tebu merambah ke Petani sekitar hingga Santri-santri Kiai Wahab. Salah satu Santri yang turut menanam tebu hingga saat ini adalah Mariyono.


Mariyono merupakan warga Blora yang nyantri di Kiai Wahab Kauman Sulang dan sekarang menetap di Karangharjo Sulang. Saat ini luasan lahan yang dikelola untuk budidaya tebu sekitar 200 hektar bersama kelompok binaan. Kalau tanam sendiri sekitar 5 hektar sebagian sewa selama empat tahun sebesar 10 juta, tergantung kondisi dan letak lahan. Kelompok binaan saat ini mempunyai brak atau pabrik giling tebu untuk menjadi gula merah sebanyak 6 brak.

Dalam 1 brak membutuhkan pasokan tebu sebesar 10 ton/hari dengan menghasilkan gula merah sekitar 8,5 kwintal hingga 1 ton. Panen dilakukan ketika tanaman sudah berusia 8 bulan hingga 1 tahun. Namun rata-rata di Rembang panen dilakukan ketika tebu usia 1 tahun, karena terkait kondisi tanah.


Kisaran harga tebu kali ini, Rp. 320/kg sedangkan gula merah hanya Rp. 6.400,-/kg. Padahal di tahun 2015 harga gula merah mencapai Rp. 7.500,-/kg. Mayoritas Pengrajin gula yang masih eksis sudah memiliki alat giling sendiri. Kalau semisal belum punya alat, mereka harus sewa dengan sekitat 66-67 ribu. Normal pendapatan harus mencapai 10%, yang saat ini hanya 3% saja karena terkait harga gula jadi. Jadi kalau Petani tebu yang selama ini belum punya alat giling sendiri, kebanyakan sudah tutup. Karena biaya sewa alat juga mahal.

Ungkap Mariyono, sebenarnya giling tebu untuk menjadi gula merah kali ini belum dapat keuntungan karena sudah terpangkas biaya produksi. Kegiatan ini dilakukan karena sudah menjadi pekerjaan. Petani berharap agar kebijakan Pemerintah terkait gula merah berpihak kepada mereka karena gula merah belum dianggap kebutuhan pokok. (Admin SPI Rembang/2018)

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Total Pageviews

Label

Gallery Kehutanan